Dear Bunda,
Bumil sekalian.
Pernah nggak bunda mau USG tapi dilarang sama suami atau mertua. Alasannya : nanti saja kalau sudah besar, nanti saja supaya kelihatan kelaminnya, atau malahan dibilang USG itu berbahaya buat janinnya.
Berikut ini adalah salah satu artikel jadul saya yang membahas tentang USG. Semoga bermanfaat.
Pemeriksaan ultrasonografi (USG) merupakan pemeriksaan pencitraan (
imaging) untuk memeriksa organ dibawah permukaan kulit dengan menggunakan gelombang suara ultrasonik. Struktur organ dibawah kulit akan memantulkan gelombang suara tersebut dan kemudian pantulannya diterima oleh alat USG yang dipegang dipermukaan kulit. Pantulan tersebut kemudian akan dirubah menjadi listrik dan kemudian ditampilkan di layar USG untuk kemudian diinterpretasikan oleh pemeriksanya. Pemeriksaan USG merupakan pemeriksaan pencitraan (
imaging) tersering yang dilakukan pada manusia karena relatif aman bahkan dalam kehamilan. Berdasarkan pengalaman praktek sehari-hari, pasien saya yang kontrol hamil sering meminta pemeriksaan ultrasonografi (USG). Bahkan kadang-kadang saya kaget juga karena tanpa diminta, beberapa pasien saya naik dengan sendirinya ke atas ranjang USG dan membuka perutnya untuk diperiksa dengan USG. Namun pada dasarnya hampir sebagian besar pasien saya tidak mengerti apa tujuan sebenarnya dari pemeriksaan dengan USG, dan apa yang diharapkan dari pemeriksaan USG secara berkala.
Pertanyaan pertama yang diajukan oleh hampir semua pasien saya saat USG pertama kali adalah “Dok…udah keliatan belum (kelaminnya)?”. Padahal saya belum sampai di daerah sensitif tersebut. Pertanyaan lain adalah “Dok, hamilnya udah berapa bulan…”.
Memang sih saya bisa cari tahu melalui USG, tapi tidak seakurat kalau ibunya ingat betul kapan haid terakhir. Selama ini pasien menyangka bahwa USG hanya untuk mengetahui jenis kelamin, umur kehamilan, posisi dan berat badan bayi. Padahal ada begitu banyak informasi berharga yang dapat diambil saat melakukan USG dengan teliti. Banyak kelainan yang dapat dideteksi secara dini dalam kehamilan. Misalnya seperti bibir sumbing, gangguan penutupan tulang belakang, kelainan jantung, ginjal, saluran kencing, saluran pencernaan, paru-paru, kelainan plasenta, dll. Bahkan bila ingin dilakukan pemeriksaan secara terperinci dan menyeluruh, maka tidak jarang pemeriksaan tersebut membutuhkan waktu hingga lebih dari 30 menit sehingga diperlukan perjanjian khusus antara ibu dengan dokternya. Oleh karena itu, pemeriksaan USG ditangan yang tepat akan memberikan banyak manfaat. Sedangkan di tangan yang tidak tepat akan sia-sia. Jadi selain untuk mengetahui umur kehamilan, jenis kelamin, berat badan dan posisi bayi, penggunaan USG bertujuan untuk mencari faktor-faktor resiko baik pada ibu maupun bayi yang berpotensi fatal.
Salah satu peran USG dalam mendeteksi kemungkinan Down Syndrome
Selama ini dari pengalaman, setiap pasien yang hamil pasti minta di-USG. Bahkan karena sangat terkenalnya pemeriksaan USG ini, alat USG bukan saja dapat ditemukan di ruangan dokter tapi di ruangan tenaga kesehatan yang sebetulnya tidak memiliki kompetensi untuk menggunakan alat ini. Penggunaan alat inipun sering dikomersilkan oleh mereka dengan menakut-nakuti pasiennya sehingga pasien akan kembali lagi untuk diperiksa.
Nah, karena itu muncul pertanyaan siapa yang boleh melakukan pemeriksaan USG? USG menggunakan gelombang suara ultrasonik. Gelombang suara tersebut pada kekuatan tertentu dapat menimbulkan peningkatan suhu pada struktur tubuh janin, oleh karena itu pemeriksaan USG menggunakan prinsip ALARA (
As Low As Reasonably Achievable). Artinya adalah menggunakan paparan energi yang seminimal mungkin dan sesingkat mungkin. Meskipun sejak 40 tahun yang lalu USG pertama kali ditemukan hingga saat ini, belum pernah dilaporkan adanya dampak negatif dari USG. Namun penggunaan USG harus tetap berhati-hati hingga penelitian membuktikan bahwa USG benar-benar aman. Dengan prinsip ALARA tersebut, maka tidak semua tenaga kesehatan bisa melakukan USG. Di Indonesia, pemeriksaan USG dalam kehamilan dapat dilakukan oleh : dokter ahli kandungan dan kebidanan, dokter radiologi, dokter umum yang telah dilatih dan sonographer.
Kadang pasien saya juga bertanya “Dok..dok..bisa empat dimensi (4D) ngga?”. Tentu saja bisa…. Namun saya akan menjelaskan bahwa USG 4D tidak lebih baik daripada USG biasa (2D). USG 4D hanya mendukung (membantu) diagnosis saja, namun untuk melihat kelainan yang lebih spesifik tidak bisa menggunakan 4D. Biasanya USG 4D dilakukan untuk menyenangkan orang tua atau keluarga yang menemani pasien kontrol. Meskipun demikian tidak selamanya gambaran wajah bayi dapat terlihat melalui USG 4D. Seringkali usia kehamilan, posisi, jumlah ketuban, tali pusat atau tangan bayi akan menyulitkan pengambilan gambar 4D.
Akhir kata, saya kerap menyarankan pada pasien-pasien yang memiliki kehamilan resiko tinggi untuk melakukan pemeriksaan USG screening dengan maksud menilai ada atau tidaknya kekurangan pada bayi yang dikandungnya. Screening memakan waktu cukup lama sehingga dibutuhkan kesabaran pasien (dan pengantar). Meskipun pemeriksaan USG tidak 100% akurat dalam mendeteksi kekurangan yang ada, namun setidaknya apapun hasil yang diperoleh akan dapat meningkatkan kewaspadaan, sekaligus rasa tenang dan sukacita dalam masa kehamilan..